Sabtu, 06 Desember 2014

Surat Untuk Bupati Suherman di Terima Gubernur Junaidi


Iringan Gub disambut Siswa SD
KETIKA kunjungan kerja Gubernur H. Junaidi Hamsyah, M.Pd, Danrem 041/ Gamas Kol. Inf Achmad Sudarsono dan pejabat teras Pemda Provinsi Bengkulu lainnya disambut meriah oleh warga dan siswa sekolah dasar (SD). Hal ini jelas mengisyaratkan betapa riang gembiranya warga dusun Bandar Angung dikunjungi oleh pejabat tinggi di Provinsi Bengkulu. Kunjungan kerja gubernur tersebut jelas menjadi hal yang asing dan sekaligus istimewa bagi mereka.  

Christopher Bengkulu 

Dari jauh hari mereka telah mempersiakan sambutan atas kedatangan Gubernur Junaidi Hamsyah , Danrem 041/Gamas Kol. Inf Achmad Sudarsono. Pemdangan ini terlihat dari banyaknya warga yang menantikan kedatangan rombongan pengambil kebijakan di Provinsi Bengkulu tersebut.  

Adalah ibu Ruhaini (25) yang  telah mempersiapkan diri tiga hari sebelum kedatangan Gubernur dan rombonganya. Ibu Ruhaini telah memilih pakaian yang akan digunakan ketika hari yang ditunggu-tunggu tiba. Dipilihlah baju dengan warna merah hati, jilbab putih. Inilah penampilan yang tepat untuk menyambut kedatangan Gubernur dan rombongan tersebut. Selain mempersiapkan diri dari sisi penampilan, Ruhaini juga mempersiapkan diri menyusun kata dalam secarik kertas putih. Bukan hanya ibu Ruhaini yang mempersiapka diri dari jauh hari namun hampir seluruh warga desa Bandar Agung melakukan hal yang sama. Yakni mempersiapkan diri untuk menyambut pejabat penting di Provinsi Bengkulu tersebut. 

Siswa SD Sambut Gubernur

Rupanya ibu Ruhaini ingin menyampaikan keluhan atas uneg-uneg warga sekitarnya mengenai anak-anak sekolah dasar (SD) yang tidak pernah mengikuti upacara bendera setiap Senin seperti kebanyakan siswa sekolah di daerah lainnya. “Jangankan upacara bendera pada hari Senin, upacara 17 Agustus pun tidak dilaksanakan,” ujar dia gelisah. 

Kegelisahan tersebutlah lalu dituangkan tulisan di secarik kertas yang dimintanya dari anaknya untuk menuangkan uneg-uneg tersebut, lalu disampaikan kepada pejabat yang dirasa dapat membantu memecahkan masalahnya. Kegelisahan Ruhaini tersebut bukan hanya dirasakanya sendiri namun dirasakan juga oleh sembilan warga yang juga orang tua wali siswa yang lainya. 

Secarik kertas surat bersampulkan sampul merk Airmail tersebut berisikan meminta kebijaksanaan Bupati Rejang Lebong untuk memperhatikan sekolah di Dusunnya, dan menegur kepala sekolah yang kurang aktif menjalankan tugasnya datang kesekolah di dusun mereka, sehinga anak-anak kurang diperhatikan dan tidak pernah upacara bendera. Rencananya surat tersebut disampaikan kepada bupati Rejang Lebong Suherman, Namun karena yang bersangkutan tidak bisa hadir, maka surat tersebut di sampiakan kepada Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah. “Silahkan Bapak baca surat kami ini pak, dan kami minta kebijaksanaan bapak, karena anak-anak kami disini tidak pernah merasakan upacara bendera,” kata dia saat mencegat iringan kendaraan dinas Gubernur yang mulai beranjak meninggalkan lokasi acara penutupan TMMD Imbangan di desa mereka pada Sabtu 30 Agustus lalu.(**)

Bangunan Dirancang Tahan Gempa

Sepuluh Tahun Tsunami Aceh

Masjid Raya Baiturrahman (Topher)
Belum hilang diingatan kita bagaimana dahsyatnya bencana tsunami di Serambi Mekah, Aceh, 2004 silam. Kala itu, Aceh bak disapu samudera hingga meluluhlantakkan provinsi terbarat di Indonesia tersebut. Tak terhitung berapa nyawa melayang. Dan kini, di 10 tahun kisah kelam itu. Aceh mulai berbenah. Mereka bangkit dan telah siap bersaing. 

H CHRISTOPHER-BENGKULU

Mengunjungi Aceh, mendapatkan pengalaman tersendiri bagi setiap orang. Kota yang dahulunya sempat porak poranda ini memang mengisahkan banyak hal menarik dan tempat untuk dikunjungi. Misalnya museum tsunami yang dibangun menyerupai sebuah kapal, dan pengunjung akan disuguhkan mengenai kedahsyatan gelombang tsunami dan jumlah korban serta bangunan yang hancur serta negara yang terdampak akibat gempa dan Tsunami tersebut.

Lalu ada musium pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung I yang terdorong ke daratan sejauh lima kilometer  dan sekarang berlokasi di Gampong (Desa) Punge Blang Cut, Kota Banda Aceh. “Ada lima rumah di bawah PLTD Apung I tersebut dan sama sekali tidak bisa dievakuasi,” ujar Yayan sambil menunjuk kebawah PLTD Apung I.  

Museum PLTD Apung I
PLTD Apung tersebut masih berfungsi hanya saja ketika dihidupkan getarannya sangat kencang karena berada didaratan. “Pernah ada yang mengusulkan untuk dipindahkan ke laut lagi, agar bisa berfungsi untuk membantu menyuplai listrik di Banda Aceh namun biayanya besar sekali,” kata Yayan.

Setelah dilakukan penghitungan oleh para ahli setidaknya membutuhkan dana Rp40 Miliar untuk mengembalikan PLTD tersebut ke laut. PLTD dengan bobot mati 26 ributon ini jelas membutuhkan biaya yang sangat besar untuk memindahkanya. “Jarak lima kilometer dan melalui perkampungan yang padat penduduk, akhirnya diputuskan untuk dijadikan musium, dan dana Rp40 miliar tersebut bisa digunakan untuk membangun yang lainnya,” Jelas dia.


Lalu juga ada Kapal nelayan yang terdorong oleh tsunami dan berada di atas beton rumah penduduk dan ada 11 titik kuburan massal. “Aceh sudah berubah, pembangunannya sudah lebih terkonsep dan memperhatikan aspek lingkungan,” kata Yayan.

Gedung bertingkat nan megah dibangun di Banda Aceh dengan arsitetur yang tahan gempa serta bentuk-bentuk yang khas. Bangunan tersebut bahkan memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung dan pelancong yang ingin menjadikan Banda Aceh sebagai kota tujuan untuk berlibur bersama keluarga. “Tidak akan menyesal bila berkunjung ke Banda Aceh,” ujar Yayan sambil Promosi.

Penduduk kota Banda Aceh yang ramah dan berlalu lalangnya becak motor menambah kesan tersendiri bagi Kota Banda Aceh. “Ongkos becak motor tidak mahal, berkisar antara lima ribu sampai dengan 20 ribu tergantung dengan kesepakatan antara calon penumpang dan penarik becaknya,” ujar Yayan seorang jurnalis lokal menjelaskan. 

Pembangunan di Banda Aceh sekarang harus memperhatikan jalur evakuasi bencana. Jalur yang paling cepat untuk evakuasi dan meyelamatkan diri adalah jalan raya. “Itulah salah satu alasan mengapa jalan di Banda Aceh dibangun lebar dan dua jalur. Agar memudahkan penduduk untuk menyelematkan diri dan lari ke tempat yang lebih tinggi bila terjadi gempa disertai tsunami,” kata dia.
Kapal Nelayan Terbawa Arus Tsunami

Dr. Didik Sugiyanto dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Syaih Kuala University mengatakan ada beberapa hal yang membuat masyarakat sadar bencana. Diantaranya ada kesadaran kolektif masyarakat untuk membuat jalur evakuasi menuju titik penyelamatan. Lalu pembangunan yang berbasiskan jalur evakuasi bencana gempa dan tsunami. “Belajar dari pengalaman Gempa dan disertai Tsunami 26 Desember lalu yang merenggut setidaknya 250an jiwa, membuat masyarakat dan pemerintah sadar pentingnya pembangunan yang memperhatikan lingkungan,” kata dia.(**)

Musium Tsunami Wadah Untuk Belajar Tetang Bencana

Musium Tsunami Aceh (Topher)
Peringatan 10 Tahun Tsunami Aceh

TSUNAMI and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Syiah Kuala University, Dr. Didik Sugiyanto menjelaskan pasca gempa dan tsunami ada pembelajaran positif. Masyarakat sudah memahami mengenai gempa dan tsunami. Bahkan masyarakat sudah paham ketika gempa terjadi harus menyelamatkan diri melalui jalur evakuasi yang aman. “Ini saya kira nilai positifnya,” katanya.

Nilai positif yang lainnya adalah dijadikannya Universitas Syiah Kuala sebagai pusat studi tentang kegempaan. Bahkan sekarang ini banyak yang mengambil S3 tentang gempa di Aceh. “Saya salah satu pengajarnya,” ujar dia.

Untuk menunjang Aceh sebagai pusat studi kegampaan tersebut pemerintah bekerjasama dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum. 

Musium tsunami Aceh dibangun untuk mengenang kedashatan Gempa dan Tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004. Saat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin melihat puing-puing dan korban yang terekam kamera pasca kejadian. Tidak kurang dari 240 Ribu jiwa menjadi korban saat terjadi gampa dan disertai tsunami yang dasyat tersebut. 

“Musium Tsunami tersebut didedikasikan untuk masyarakat yang ingin belajar dan melihat puing kedasyatan pasca tsunami,” ujar salah seorang Jurnalis lokal, Yayan Zamzami yang menemani Jurnalis Radar Bengkulu. 

Ketika memasuki areal Musium akan disambut oleh petugas yang ramah dan mempersilakan untuk menitipkan tas ditempat penitipan. 
“Silakan titipkan tas disana pak, karena masuk kedalam musium tidak boleh membawa tas, kecuali kamera dan Handphone,” ujar salah seorang petugas musium sambil tersenyum ramah.

Sebelum masuk ke musium pengunjung akan melalui helikopter polisi yang hancur akibat kedasyatan Gempa bumi. Helikopter polisi yang hancur tersebut sengaja ditempatkan pada sisi sebelah kiri pintu masuk agar pengunjung sudah merasakan betapa dasyatnya gempa dan tsunami. Banyak pengunjung menjadikannya sebagai obyek poto dengan latar belakang helikopter. 

Lalu masuk ke lorong yang gelap dibuat melingkar, dengan dinding yang tinggi. Pengunjung akan disuguhi suasana yang berbeda dengan yang di luar musium. Lorong gelap dan disertai percikan air dari atas yang menambahkan kesan khasnya musium Tsunami Aceh. Setelah melalui lorong pengunjung akan menaiki tangga dengan kemiringan 35 derajat untuk menuju ke lantai satu. Di ruangan yang pertama dimasuki adalah ruangan IT dimana pengunjung dapat menyaksikan dari layar monitor gambar-gambar yang menceritakan kehancuran bangunan dan korban jiwa melalui tayangan slide. 

Bangunan megah berbentuk kapal besar yang sedang berlabuh tersebut didesain bertingkat dimana di setaip ruangannya memiliki makna tersendiri. Setelah melalui runagan IT pengunjung dibawa pada sebuah perenungan lebih dalam melalui ruang The light of God. Ini adalah sebuah ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya ke atas sebuah lubang dengan tulisan arab “Allah” dengan dinding sumur dipenuhi nama para korban. 

Ruangan yang mengandung nilai-nilai religi cerminan dari Hablumminallah (konsep hubungan manusia dan Allah). Selain nama-nama korban tsunami Aceh yang ditempelkan di dinding ruangan tersebut pengunjung akan mendengarkan rekaman suara yang sedang melasfazhkan ayat-ayat Alquran. 

Setelah itu pengunjung akan memasuki lantai satu di dalam ruangan dipajang poto-poto yang mengambarkan pasca kejadian. Ada sepeda dan sepeda motor yang rusak dan asli setelah gempa dan tsunami dipajang disana. 

Motor jenis bebek jet coolet dan sepeda angin yang hancur bahkan blok mesinnya hampir terlepas membuktikan goncangan gempa dan dorongan gelobang tsunami sangat dasyat. 

Ada banyak ruangan yang bisa menambah wawasan pengunjunng. Diantaranya ruangan proses terjadinya gempa bumi, lalu ada proses terjadinya tsunami. Bagi pengunjung yang ingin mencoba merasakan goncangan gempa ada rungan khusus dan alat simulasi gempanya atau goncangan. 

Setelah pengunjung puas memasuki ruangan, pengunjung akan mendapatkan gambaran dan pengalaman yang jelas mengenai kedasyatan Gempa dan Tsunami yang melanda provinsi Aceh tersebut. Musium tsunami yang dibangun di atas lahan lebih kurang 10,000 meter persegi yang terletak di Ibukota provinsi Aceh yaitu Kota Banda Aceh. Di jalan Iskandar Muda, dekat simpang jam, di seberang lapangan Blang Padang, persisnya di bekas kantor Dinas Peternakan Aceh sebelah pemakaman Belanda/Kerkhoff). 

Sedangkan anggaran dana untuk pembangunan Musium tersebut sekitar Rp 140 miliar dengan rincian Rp70 milyar dari Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) untuk bangunan dan setengahnya lagi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Musium yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Februari 2009 dengan arsitek Ridwan Kamil (Walikota Bandung sekarang). Museum ini terdiri dari 4 lantai dengan luas sekitar 2500 meter persegi yang dimaksudkan untuk mengenang peristiwa bencana alam, gempa bumi dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 dengan korban jiwa sekitar 240 ribu jiwa. 

Selain sebagai sarana edukasi, musium ini juga dirancang sebagai tempat evakuasi jika bencana tsunami kembali melanda. “Sampai sekarang tetap ramai dikunjungi oleh turis maupun wisatawan dari dalam negeri,” kata Yayan. (**)

Warga Cegat Gubernur Minta Bacakan Surat Bersampul Air Mail

Ruhaini Mencegat Gubernur (Topher)
BENGKULU – Usai menutup acara TNI manunggal membangun desa (TMMD) di Desa Bandar Agung, kecamatan Sindang Beliti. Iring-iringan konvoi kendaraan Gubernur Bengkulu H. Junaidi Hamsyah, M.Pd dicegat warga yang ingin menyampaikan aspirasinya melalui surat bersampul Air Mail. 
“Silakan Bapak Gubernur baca surat kami pak,” ujar Perwakilan masyarakat Dusun Bandar Agung Ruhaini (35) anak yang mewakafkan lahannya untuk lokasi sekolah SDN 10 Bandar Agung usai mencegat laju kendaraan dinas Gubernur saat meninggalkan lokasi acara, Sabtu (30/8). Menanggapi surat tersebut Gubernur H. Junaidi Hamsyah, M.Pd mengatakan surat tersebut ditujukan kepada Bupati Rejang Lebong Suherman. Hanya saja Bupati Rejang Lebong tidak hadir dan hanya diwakili oleh Wakil Bupati Rejang Lebong Syafewi, S.Pd. Sehingga suratnya disampaikan kepada Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah. “Saya sudah baca surat, hanya saja surat tersebut ditujukan kepada Bupati Rejang Lebong,” kata dia. 

Surat yang berisikan keberatan terhadap Nurlia menjabat sebagai kepala sekolah disini (Bandar Agung) dikarenakan tidak pernah aktif dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah. Oleh karena itu kami selaku masyarakat minta kebijakasanaan bapak untuk menganti kepala sekolah yang tersebut di atas dan dipindahkan ketepat lain. Surat yang tindatangani oleh M. Padil pewakaf tanah sekolah dan mesjid di Dusun Bandar Agung. Juga malampirkan 10 nama yang tidak setuju terhadap keberadaan kepala sekolah atas nama Nurlia yang mereka nilai tidak aktif datang ke sekolah. (yakni M. Padil, Neli Paridah, Edy Iriawan, Lepian, Rohaina, Ibnu, Leni, Ris, Lubis, Efri. Bahkan Gubernur sangat antusias mendengarkan keluhan orang tua siswa yang mengeluhkan bila siswa SDN 6 tidak pernah upacara bendera. “Mungkin saya akan hadir pimpin upacara disini,” jelas dia sebelum membaca surat warga tersebut. (hcr)

Dari Blang Padang Hingga Thanks to The World


10 Tahun Tsunami Aceh


CHRISTOPHER - BENGKULU

MENGUNJUNGI Museum Aceh tidak lengkap rasanya bila tidak mampir di Lapangan Blang Padang, yang dibangun pasca Tsunami Aceh. Lapangan Blang Padang diperuntukan bagi warga aceh untuk berolahraga dan berinteraksi sosial. Sekaligus sebagai lokasi untuk mengajak keluarga bersantai. Lokasinya yang berada di Gampong Baro, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh. “Dimanakan Blang Padang karena pada zaman Raja Iskandar Muda, lapangan tersebut merupakan lapangan rumput kerajaan pada abad ke 16,” kata jurnalis lokal Yayan Zamzami saat menemani Jurnalis tugas liputan di Banda Aceh.
Tugu Tsunami Aceh di Lapangan Blang Padang (Topher)

Lapangan seluas delapan hektar tersebut juga menjadi salah satu kebanggan masyarakat Kota Banda Aceh. Dilapangan tersebut juga ada replika pesawat RI 001 seulawah. “Pesawat RI 001 Seulawah tersebut adalah sumbangan masyarakat Aceh untuk RI, untuk menunjang transportasi udara,” kata dia. 

Replika pesawat RI 001 Seulawah sengaja ditempatkan dilapangan blang Padang agar dapat dilihat oleh masyarakat. Jika masyarakat Aceh dari awal perjuangan kemerdekaan RI sudah berpartisipasi dengan menyumbangkan pesawat untuk memperlancar transportasi udara. “Sedangkan pesawat RI 002 Seulawah Replikanya ada di Jakarta, dan merupakan cikal bakal penerbangan Garuda Airways yang ada sekarang,” ucap dia. 

Pada 23 Februari Lapangan Blang Padang yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono juga dikenal dengan nama lapangan tugu thanks to the World. “Dilapangan tersebut juga dibangun tugu ucapan terimaksih kepada dunia yang telah berpartisipasi untuk membantu membangun kembali Aceh setelah porakporanda dihantam Gempa dan Tsunami,” kata dia. 

Untuk mengingkatkan warga dunia dibangunlah lapangan yang berisikan nama-nama negara yang ikut berpartsipasi membantu masyarakat Aceh. “Tidak kurang 53 negara berpartsipasi membantu masyarakat Aceh,” jelas dia. Di Lapangan ini juga dibangun miniatur kepala perahu yang berisikan ucapan terimaksih kepada warga dunia yang telah membantu masyarakat Aceh untuk bangkit kembali pasca tsunami. “Ada 53 miniatur bangunan yang mengelilingi lapangan Blang Padang dan berisikan nama-nama negara yang membantu masyarakat Aceh,” kata dia. 


Lalu disepanjang miniatur tersebut dibangunlah jogging track yang diperuntukkan bagi masyarakat Aceh untuk berolahraga dan membakar lemak tubuh. “baik pagi hari maupun sore hari lapangan tersebut selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk berolahraga di Jogging track tersebut,” ujar dia. Lapangan tersebut juga dikenal dengan nama lapangan Thanks to The World. “Ada tugu yang berbentuk gelombang laut yang dibangun disisi barat miniatur pesawat RI 001 Seulawah, yang didedikasikan untuk masyarakat agar selalu terkenang terhadap bencana tsunami pada 26 Desember 2004 yang menewaskan 240 ribuan jiwa,” kata Yayan. 


Selain diperuntukkan bagi masyarakat untuk berolahraga lapangan thanks to the World juga untuk masyarakat berburu kulliner. “lapangan tersebut tidak ada sepinya, selalu ramai dikunjungi masyarakat Aceh,” tutup Yayan.(**)

Jelang Pilkada Anggaran Dana Hibah dan Bansos Meningkat


BENGKULUSudah menjadi rahasia umum setiap akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah anggaran dana bantuan sosial (Bansos) dan dana hibah meningkat drastis. Oleh karena itu juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi mengatakan ada kecenderungan peninggkatan penggunaan anggaran dana bansos  untuk kepentingan politiknya, sehingga ada sangat berpotensi korupsi. 

"Kecenderungan kepala daerah saat ini menggunakan danah bansos untuk kepentingan politiknya hal ini terbukti dengan tingginya anggaran bansos yang dialokasikan menjelang pemilihan kepala daerah pada 2015," kata dia kepada jurnalis saat memberikan penjelasan mengenai penggunaan anggaran dana agar tidak terjadi korupsi, beberapa waktu lalu.

Johan mengatakan KPK mengingatkan kepala daerah untuk menghindari pendistribusian bansos menjelang pilkada ini. "Kami mengingatkan untuk kepala daerah khususnya di Bengkulu untuk tidak menggunakan dana bansos untuk kepentingan politik karena berpotensi untuk terjadi tindakan korupsi," ujar dia.

Dana bansos di provinsi Bengkulu akan menjadi sorotan KPK mengingat akan ada sejumlah kabupaten/ kota yang akan menggelar pemilihan kepala daerah. "Bila tidak salah ada enam kabupaten dan satu provinsi yang akan menggelar pilkada oleh karena itu pengawasan penggunaan dana bansos akan kami lakukan secara ketat,” demikian Johan. (hcr)

Sanksi Menunggu Perusahaan Tambang Tak Mau Reklamasi

Ilustrasi Tambang Batubara di Bengkulu


BENGKULUKepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu, Risman Sipayung mengatakan masih ada pengusaha tambang yang enggan melakukan reklamasi bekas galian tambangnya. Hal ini diketahui berdasarkan hasil pantauan lapangan dan data yang masuk beberapa perusahaan tambang belum melaksanakan reklamasi lahan bekas galian tambangnya. 
“Walaupun sudah ada yang melakukan reklamasi lahan bekas tambangnya namun masih ada beberapa tambang yang belum melaksanakan reklamasi sama sekali,” kata dia kepada jurnalis, Jumat (5/12/2014).

Menurut Risman, pihaknya saat ini terus melakukan pendekatan secara persuasif kepada pengusaha tambang batu bara untuk menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dan dipertegas dengan Peraturan Pemerintah PP No 78 tahun 2010 tentang reklamasi lahan pasca tambang. “Apabila ada pengusaha tambang batu bara yang tidak melaksanakan reklamasi lahan bekas tambangnya, maka Dishut akan merekomendasikan perusahaan tambang batubara tersebut untuk dicabut izinya kepada pemerintah pusat,” kata dia. 

Mengenai Perusahaan yang belum melakukan reklamasi lahan bekas galian tambangnya, Risman mengaku lupa datanya. “Pemantauan lapangan Perusahaan yang mulai melakukan reklamasi adalah PT. Danau Mas Hitam (DMH), PT. Bukit Sunur dan Bara Indah Lestari (BIL),” kata dia.

Disisi lain mantan Anggota Pansus Raperda Pengelolaan Mineral dan Batu Bara DPRD Propinsi Bengkulu, Firdaus Jailani mengatakan pantauan pihaknya proses reklamasi lahan bekas galian tambang batu bara dari sebagian besar perusahaan yang beroperasi di wilayah Bengkulu, belum maksimal. “Reklamasi yang dilakukan oleh pihak tambang belum ada yang maksimal,” kata dia. 

Menurut dia, tidak tertutup kemungkinan reklamasi yang sudah dilakukan bisa saja tidak maksimal karena kurangnya pamantauan lapangan oleh dinas dan instansi yang terkait. “Bisa saja pihak tambang mengklaim sudah melakukan reklamasi, namun kami meragukan akan berjalan maksimal,” tutup dia. (hcr)